Revitalisasi Keraton Surakarta mencakup 13 titik atau kawasan, yaitu Pagelaran, Sitinggil, Museum Keraton, Kasentanan, Panti Pidana, Keraton Kilen/Kulon, Keputren, Ndalem Ageng, kawasan Kamandungan, Bangsal Pradonggo/Pradonggo Kidul, Sasana Handrawina, Panggung Sangga Buwana, serta bangunan di kawasan Keraton Kilen dan Sino Renggo.

Revitalisasi juga mencakup penanganan Museum Keraton melalui konservasi koleksi, pendataan dan inventarisasi, penataan ruang pamer, penguatan narasi sejarah, serta peningkatan kualitas penyajian informasi dan pengalaman edukatif bagi pengunjung. Aspek nonfisik pun diperkuat melalui peningkatan kapasitas Sentana Dalem dan Abdi Dalem, pewarisan pengetahuan, penguatan narasi, serta pengembangan tata kelola budaya.

Pada kesempatan tersebut, Fadli juga meresmikan Kantoran Ndalem sebagai Kantor KGPH Panembahan Agung Tedjowulan yang menjadi bagian dari penguatan pengelolaan kawasan dan pemajuan kebudayaan di lingkungan Keraton. Kantor tersebut digunakan untuk menunjang kerja KGPH Panembahan Agung Tedjowulan selama menjalankan tugasnya sebagai Pelaksana Keraton Surakarta.

Dengan dimulainya revitalisasi ini, Kementerian Kebudayaan bersama Keraton, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan akan terus memperkuat kerja sama dalam menjaga bangunan, kawasan, tradisi, serta pengetahuan yang hidup di Keraton Surakarta. Revitalisasi tersebut diharapkan dapat memperkuat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai ruang kebudayaan yang terus hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta generasi mendatang.

Sebagai informasi, turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR. Koes Moertiyah Wandansari; Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto. Hadir mendampingi Menteri Kebudayaan, antara lain Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Staf Khusus Menteri bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono; Staf Khusus Menteri bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, Putri Woelan Sari Dewi; Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Lita Rahmiati; Direktur Sejarah dan Permuseuman, Endah Budi Heryani; serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Riris Purbasari.