"Nah, kemudian dievaluasi, kemudian dilihat plus minusnya, kalau memang lebih banyak manfaatnya, maka silakan kita terapkan CFD 2 hari yaitu Sabtu dan Minggu. Tapi, kalau ternyata kurang tidak terlalu signifikan manfaatnya, maka tentu saja tidak perlu dilanjutkan," jelasnya.
Taufik juga mengingatkan adanya potensi gangguan lalu lintas jika CFD digelar pada Sabtu. Sebab, sebagian masyarakat masih bekerja atau beraktivitas pada hari tersebut.
"Akan tetapi kemudian ada hal lain dari itu ya, bahwa kalau 2 hari itu Sabtu tidak tidak semua orang rest atau istirahat bekerja ya, ada kantor-kantor yang masih buka, ya, jadi kemudian kemungkinan akan ada lalu lintas yang terganggu juga, artinya kalau CFD kan berarti ada ruas-ruas jalan yang tutup," ungkapnya.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo juga meminta persiapan dilakukan dengan melibatkan pengguna jalan, warga terdampak, pelaku usaha, dan peserta CFD. Menurutnya, rekayasa lalu lintas perlu disusun secara fleksibel dan disosialisasikan lebih awal.
"Skema ini wajib disosialisasikan lebih awal agar masyarakat dan pelaku usaha dapat menyesuaikan aktivitasnya, sehingga CFD dapat berjalan lancar tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan dengan pengguna jalan lainnya," kata Rio.
Di sisi lain, sejumlah warga mendukung penambahan hari CFD. Reza menilai CFD pada Sabtu dan Minggu dapat membagi kepadatan peserta, sementara Ika (39) dan Ayu (35) mengusulkan kawasan Sudirman karena pilihan jajanan yang lebih banyak. Ayu juga menilai CFD dua hari dapat menjadi ruang berkumpul bersama keluarga sekaligus membantu mengurangi polusi.