Dengan demikian, Jakarta dan Seoul berdiri di dua titik berbeda dari satu persoalan yang sama, yakni bagaimana mempertahankan ruang gerak ketika Indo-Pasifik semakin dipenuhi kekuatan besar.

Istilah Indo-Pasifik sendiri bukan sekadar nama baru untuk peta Asia. Ia mencerminkan perubahan cara negara-negara melihat distribusi kekuatan.

Kawasan Indo-Pasifik sekarang ini menampung sekitar 65 persen populasi dunia, sekitar 62 persen produk domestik bruto (PDB) global dan hampir separuh perdagangan internasional.

Bagi Korea Selatan, Indo-Pasifik bukan sekadar kawasan strategis di peta. Sekitar 78 persen ekspor dan 67 persen impornya terkait dengan kawasan tersebut, berdasarkan data 2021 yang digunakan Seoul dalam strategi Indo-Pasifiknya.

Tidak mengherankan jika Korea Selatan menyatakan bahwa kepentingan nasionalnya terkait langsung dengan stabilitas dan kemakmuran Indo-Pasifik.

Di sisi lain, Jakarta tidak berada di bawah ancaman militer seperti yang dirasakan Seoul, tetapi berada di tengah jalur perdagangan dan persaingan strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik.