NADIKABAR.COM — Gunung Anak Krakatau mengeluarkan abu vulkanik usai erupsi sejak Jumat (4/9/2026). Akibat embusan angin, paparan abu vulkanik menyebar ke wilayah Banten, Jakarta, hingga Jawa Barat.

Berbeda dengan debu biasa, abu vulkanik menyimpan bahaya tersendiri. Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menegaskan bahwa abu vulkanik mengandung silika, yaitu serpihan kaca yang tajam dan dapat merusak.

"Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu ataupun debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca yang tajam dan bisa merusak khususnya pada organ yang terkena tim redaksi lain mata, hidung, mulut, maupun kulit," kata Dicky dalam tim redaksi, Minggu (6/9/2026).

Pada mata, abu vulkanik dapat menyebabkan kemerahan, perih, berair, dan sensitif cahaya, hingga luka goresan. Kemudian pada saluran pernapasan, abu vulkanik bisa menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, pilek, batuk kering jika terkena paparan tinggi, dan sesak atau nyeri di dada.