NADIKABAR.COM — Penembakan brutal di sebuah gereja di Yordania menewaskan 7 orang. Raja Yordania Abdullah mengatakan aksi kelompok bersenjata itu akan direspons dengan balasan paling keras.

Dirangkum NadiKabar, Sabtu (24/10/2026), penembakan ini terjadi saat berlangsungnya pemakaman di Gereja Hamoud, wilayah Karak, Yordania. Disebutkan bahwa dua orang bersenjata keluar dari sebuah kendaraan lalu melepaskan tembakan.

"Setidaknya enam orang meninggal dalam penembakan di Gereja Hammoud di Karak, sementara sekitar 10 orang lainnya terluka, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis," kata seorang sumber dalam laporan Al-Mamlaka.

Data korban kemudian diperbarui. Korban jiwa bertambah menjadi 7 orang. Sementara Menteri Kesehatan Yordania menyebutkan bahwa 40 orang mengalami luka-luka.

Khaled Burqan, seorang pria yang menghadiri pemakaman tersebut, menuturkan kepada stasiun televisi negara Al-Mamlaka bahwa terdapat puluhan orang yang hadir dalam acara itu. Dua pria, satu membawa senapan dan yang lainnya membawa pistol, kemudian melepaskan tembakan ke arah mereka selama lima menit.

Seorang saksi menyebut bahwa terdapat antara 150 hingga 200 orang di dalam maupun di sekitar gereja pada saat kejadian, seraya menambahkan bahwa sebagian besar korban berusia antara 50 hingga 70 tahun.

Menteri Komunikasi Pemerintah, Mohammed Al-Momani, menyatakan bahwa aparat keamanan sedang melakukan penyelidikan. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan ini, dan otoritas Yordania belum mengungkapkan siapa pelakunya.

Mayor Jenderal Abdallah al-Maaytah mengatakan bahwa sebagian besar korban luka dalam penembakan di Gereja Hamoud, di wilayah Karak, masih menjalani perawatan, sementara pengejaran terhadap para pelaku terus dilakukan.

Menteri Dalam Negeri Mazin Al Farrayeh menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh kelompok ekstremis, namun menurutnya masih terlalu dini untuk memastikan apakah mereka memiliki keterkaitan dengan kelompok tertentu, baik di dalam maupun di luar Yordania.

Serangan semacam ini sangat jarang terjadi di Yordania, negara yang tergolong stabil. Meski demikian, pihak berwenang di negara sekutu yang Amerika Serikat (AS) ini mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah berulang kali menggagalkan upaya serangan oleh kelompok militan.

Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Raja Abdullah dari Yordania, mitra utama AS dalam perjuangan melawan kelompok militan, mengunjungi Karak beberapa jam setelah serangan tersebut. Dia menyatakan bahwa para pelaku akan dihukum dengan tangan besi.

"Serangan teroris terhadap Karak akan dibalas dengan tindakan yang paling keras. Mereka yang berkhayal bisa memecah belah rakyat Yordania dengan peluru mereka tidak akan memiliki peluang di hadapan persatuan kita," ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Melalui unggahan di X, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengutuk kekerasan tersebut dan menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil serta tempat ibadah adalah tindakan yang tidak dapat diterima.

Warga yang berkumpul di sebuah rumah sakit pemerintah di Karak untuk memberikan dukungan bagi para korban luka mengungkapkan keterkejutan mereka.

"Peristiwa hari ini membuat kami terdiam, tak mampu berkata-kata. Namun, satu-satunya tuntutan kami kepada negara adalah agar mereka menyelidiki paham-paham kelam ini-dari mana asalnya dan bagaimana paham tersebut bisa merasuki pikiran anak-anak kita," ujar salah satu warga, Hani Al-Mbaydeen.

Umat Kristen merupakan kelompok minoritas di Yordania. Negara ini memiliki sejumlah situs yang tercatat dalam Alkitab, yang menarik peziarah Kristen dari seluruh dunia.

Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, melalui X menyebut peristiwa tersebut sebagai serangan yang keji dan brutal terhadap sebuah rumah ibadah.

Yordania termasuk salah satu sekutu AS di kawasan tersebut yang terkena dampak serangan dari Iran tahun ini, menyusul serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada bulan Februari.