NADIKABAR.COM — Tepat pada hari ini, Kamis, 10 September, Kabupaten Sukabumi genap menapaki usia yang ke-156 tahun. Jika dihitung mundur sejak tonggak sejarahnya pada 10 September 1870 silam, lebih dari satu setengah abad sudah bentang wilayah terluas kedua di Pulau Jawa ini mengarungi lintasan zaman.

Bukan perjalanan yang singkat. Di balik perayaan hari jadi ke-156 ini, tersimpan riwayat panjang metamorfosis daerah: dari kawasan suci sungai berjeram, benturan geopolitik yang membelah tapal batas Banten dan Batavia, bentangan kebun kopi era VOC, hingga terbitnya lembaran negara yang mengukuhkan kemandirian teritorial dan pembagian distrik-distriknya.

Mari melangkah masuk ke lorong waktu, menelusuri bagaimana fondasi Kabupaten Sukabumi terpahat lapis demi lapis hingga mencapai usia 156 tahun hari ini.

Sebelum hitungan 156 tahun dimulai, akar peradaban di tanah ini telah merentang jauh melampaui milenium pertama. Pemberhentian pertama lorong waktu membawa kita ke tahun 952 Saka atau 1030 Masehi di kawasan Cibadak.

Di tepi Sungai Citatih, Sri Jayabhupati, Maharaja Sunda, menitahkan pemahatan empat batu andesit beraksara Kawi Jawa Kuno yang kini kita kenal sebagai Prasasti Sanghyang Tapak. Prasasti ini menetapkan batas kawasan konservasi dan hutan larangan (haji sanghyang tapak).

Temuan tertua ini menjadi bukti otentik bahwa hampir seribu tahun sebelum era modern, tata kelola lingkungan hidup di Sukabumi telah ditegakkan secara formal.

Pemberhentian berikutnya membawa kita ke masa-masa pergolakan takhta abad ke-17. Wilayah Sukabumi kala itu terombang-ambing di tim redaksi persaingan kekuasaan besar. Pertanyaan tentang bagaimana tanah ini akhirnya terlepas dari bayang-bayang Kesultanan Banten dan terhubung erat ke orbit kekuasaan Batavia terjawab lewat manuver politik meja perundingan kolonial.

Pergeseran pertama meletus usai perang saudara tim redaksi Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Melalui traktat tanggal 17 April 1684, VOC yang tampil sebagai penengah sekaligus pemenang mendiktekan batas wilayah baru.

Batas timur Kesultanan Banten dikunci mati di sepanjang aliran Sungai Cisadane hingga memotong lurus ke pesisir selatan di muara Cimandiri dan Teluk Palabuhanratu. Garis demarkasi ini seketika mengakhiri dominasi Banten atas tanah Sukabumi untuk selamanya.

Dua dekade berselang, tepatnya pada 5 Oktober 1705, giliran Kesultanan Mataram yang merelakan pengaruhnya.