Pemda juga diminta membuka ruang bagi para inovator untuk mengembangkan dan mereplikasi praktik yang telah terbukti berhasil.
Selain memperkuat ekosistem inovasi, Wiyagus menekankan pentingnya inovasi untuk mendorong kemandirian fiskal daerah yang sehat dan berkeadilan. Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), kata dia, harus didukung pendataan yang akurat, administrasi modern, perluasan basis penerimaan, serta perbaikan layanan.
"Sinergi pusat dan daerah harus terlihat dalam proyek yang saling menguatkan, pengurangan hambatan investasi, konektivitas antardaerah, dan dampak pembangunan yang dapat dirasakan betul oleh masyarakat," tuturnya.
Wiyagus mencontohkan inovasi Kota Mojokerto melalui aplikasi Bayar Pajak Pakai Sampah Bisa Langsung dan Terintegrasi atau "Bajak Sambal Terasi". Inovasi tersebut menghubungkan nilai tabungan bank sampah dengan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) melalui sistem digital. Dengan begitu, masyarakat dapat menggunakan nilai tabungan bank sampah untuk memenuhi kewajiban pajak.
"Pendekatan ini menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan, inklusi ekonomi, dan administrasi pendapatan dapat dirangkai menjadi satu. Nilai inovasinya juga terletak pada keterpaduan, kemudahan bagi warga, serta peluang menciptakan nilai ekonomi," ungkapnya.
Dalam konteks pembangunan yang berorientasi pada masyarakat, Wiyagus mengutip pemikiran ekonom Amartya Sen yang menempatkan pembangunan sebagai upaya memperluas kapabilitas manusia. Artinya, pembangunan perlu memberikan kesempatan nyata bagi masyarakat untuk memilih dan menjalani kehidupan yang bernilai.