"Kita merasa kehilangan seorang pelopor, ya. Dia pada zaman reformasi aktif sekali mempersatukan TNI sampai beliau turun ke daerah-daerah mengumpulkan tiga angkatan untuk memberikan semangat persatuan dan kesatuan TNI pada waktu itu menghadapi transisi reformasi," katanya.
Sjafrie mengenang Widodo saat menjadi Panglima TNI. Dia menyebut Widodo adalah seorang pemimpin yang mendengarkan stafnya untuk mengambil keputusan.
"Waktu saya tugas di Mabes TNI, saya sebagai Staf Ahli Panglima, saya sebagai Staf Ahli Panglima, dan beliau sebagai Panglima. Beliau menjadikan saya tangki pemikir untuk mengelola kebijakan-kebijakan dan strategi militer untuk pertahanan. Ada satu yang paling saya selalu ingat adalah 'pikir bareng'. Jadi beliau tidak pernah berpikir sendiri. Beliau selalu mengumpulkan staf dan bekerja sama untuk mengambil kesimpulan," katanya.
Sjafrie berharap Widodo mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Dia juga berharap keluarga yang ditinggalkan dapat diberikan ketabahan.