Menurut Berton, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menginstruksikan pengakhiran misi tersebut setelah menilai upaya kolaborasi pengeboman air (water bombing) berhasil mencegah meluasnya kebakaran hutan, serta meyakini tim Satgas Indonesia kini mampu melanjutkan pengendalian secara mandiri.
Selama operasi yang dimulai sejak 16 September 2026, militer Jepang mengerahkan tiga unit helikopter jumbo CH-47 Chinook. Armada tersebut mencatatkan 40 kali penerbangan operasi udara dengan mencurahkan lebih dari 220 ton air di titik-titik api prioritas Kalimantan Barat, seperti Pontianak dan Ketapang.
Misi bantuan kemanusiaan ini mencatatkan sejarah sebagai operasi pemadaman karhutla luar negeri pertama yang pernah dilakukan oleh militer Jepang.