NADIKABAR.COM — bulan asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membekap sejumlah daerah di Sumatra dan Kalimantan, termasuk Palembang yang merupakan ibu kota provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).
Bukan hanya kualitas udara buruk yang berpengaruh pada menurunnya kualitas kesehatan, perekonomian warga pun menjadi anjlok turun. Salah satunya Yana (51), seorang pedagang pempek yang sudah belasan tahun berjualan di kantin kampus UIN Raden Fatah Palembang.
Dapurnya memang masih mengepul sehari-hari, namun hati pemiliknya sudah lama tidak mengepul.
Sejak kabut asap karhutla intens membekap udara Palembang selama beberapa waktu terakhir, dia bilang pengap yang mengepul bukan lagi dari dandang di atas kompor, melainkan hatinya.
Omsetnya anjlok drastis. Jika biasanya dalam sehari ia bisa meraup setidaknya Rp1 juta, kini untuk menutup modal pun tak cukup.
Penyebabnya adalah sepi. Kantin yang biasanya riuh oleh tawa dan diskusi mahasiswa kini sunyi senyap.
"Mahasiswa belajar daring sudah hampir satu bulan," kata Yana lirih saat ditemui NadiKabar.com, Sabtu (24/10) pagi.