Lima kendaraan militer pro-pemerintah Yaman dilaporkan terkena alat peledak buatan yang ditanam oleh Houthi. Belum jelas berapa banyak pejuang yang tewas atau terluka.

Di tengah gejolak yang melanda pasar energi internasional, kelaparan mengancam warga Yaman. Mereka lelah dan terpaksa mengungsi akibat gelombang kekerasan terbaru ini.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), sekitar 200.000 orang telah diusir dari rumah mereka sejak dimulainya eskalasi konflik di Yaman ini, pada awal September lalu. Perang ini terjadi di negara termiskin di dunia Arab.

Saat kami meninggalkan daerah itu, kami melihat pemandangan yang miris. Banyak keluarga yang tersebar mencari perlindungan di bawah pohon-pohon.

Di antara sekelompok perempuan dan anak-anak, kami bertemu Aisha. Duduk di tanah, dia kurus kering dan terlihat uzur.

Aisha mengungsi dari rumahnya di pegunungan Kahboob. Daerah itu telah dihantam oleh serangan pesawat tak berawak milik kelompok Houthi.

"Kami sudah berada di sini selama 30 hari," kata Aisha kepada saya.

"Saya tidak punya hewan ternak, tidak punya uang, tidak punya air, tidak punya makanan, bahkan tidak punya selimut... kami harus lari, hanya dengan pakaian yang kami kenakan," ujarnya.

Pada akhir pekan lalu, warga Arab Saudi di bandara internasional Riyadh panik. Serangan Houthi, yang terhitung paling mematikan di wilayah Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade, mengguncang negara itu, sekaligus merusak rasa aman pemerintah dan warganya.

Namun di ruang operasi di kota pelabuhan Aden, Yaman, geopolitik terasa jauh.

Rumah sakit kewalahan dan para dokter bekerja siang dan malam untuk merawat milisi pro-pemerintah yang terluka yang datang dari garis depan.

Kota Aden di selatan telah menjadi pusat pemerintahan yang didukung secara internasional sejak tahun 2015 (BBC/Lee Durant)

Kami mengunjungi sebuah rumah sakit militer tempat 51 korban luka tiba dalam satu hari. Banyak dari mereka mengalami luka tembak dan beberapa di antaranya membutuhkan amputasi.

Di sebuah bangsal yang penuh sesak, seorang milisi Houthi berbaring berdampingan dengan pejuang dari pihak lain. Para dokter mengatakan kepada kami bahwa mereka tidak membeda-bedakan.

"Saya tidak peduli dari mana dia berasal, latar belakangnya, atau agamanya. Dia adalah manusia, jadi saya harus memperlakukannya sebagai manusia," kata dokter Bassam Hazar.

Puluhan korban luka dibawa ke rumah sakit militer di Aden dalam satu hari yang sama, awal Oktober lalu (BBC/Lee Durant)

Sekalipun perang berakhir, sebagian orang tidak akan pernah melupakannya.

Seorang laki-laki duduk diam di tempat tidurnya. Perban putih melilit sisa lengan kirinya dan staples terpasang di sepanjang ubun-ubunnya.

Yang lain tidak kehilangan semangat juang mereka, seperti Ahmed Ali Mahmoud yang tersenyum dan bersemangat, meskipun mengalami beberapa patah tulang.

"Saya tidak menunggu sampai pulih sepenuhnya," kata dia kepada saya.