Pekan ini, BSE mengumumkan bahwa hanya lima persen dari luas wilayah Jerman yang masih layak dipertimbangkan sebagai lokasi tempat penyimpanan akhir, tersebar di sebelas dari 16 negara bagian. BUMN tersebut pun berdiskusi dengan para ahli geologi, pakar nuklir, dan fisikawan, serta dengan warga dan politisi. Satu hal yang jelas: Limbah nuklir yang dihasilkan selama puluhan tahun pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir harus tetap berada di dalam negeri dan tidak diekspor ke luar negeri.

Saat ini, limbah tersebut disimpan di lokasi-lokasi pembangkit. Terdapat 19 lokasi bekas pembangkit listrik tenaga nuklir yang sedang dalam proses pembongkaran, ditambah beberapa fasilitas penelitian. Pada tahun 2011, setelah bencana reaktor di Fukushima, Jepang, Jerman menghentikan pemanfaatan energi nuklir secara komersial. Di tahun 2023, pembangkit listrik terakhir dihentikan. Namun, limbahnya tetap di sana.

Jurnalis Dagmar Dehmer adalah Kepala Bagian Komunikasi BSE. Ia pun menanggapi pertanyaan DW: Mengapa pencarian tempat penyimpanan akhir memakan waktu begitu lama?

"Karena keamanan harus dibuktikan untuk jangka waktu yang sangat panjang. Di Finlandia selama 100.000 tahun, sedangkan di Jerman, Swiss, dan Prancis selama satu juta tahun. Namun, upaya yang diperlukan sangat besar, terlepas dari proyeksi masa depan. Di sana, perkembangan, interaksi antara geologi dan teknologi, serta peluruhan radionuklida seiring waktu harus dihubungkan satu sama lain dan dievaluasi keamanannya," jawab Dehmer.

Begitulah para ahli mengujinya: Lokasi-lokasi yang potensial diperiksa dari keamanan geologisnya. Apakah pegunungan pada kedalaman 400 meter tersebut cukup kokoh, dan apakah air tanah dapat terkontaminasi? Rencananya para ahli berharap menemukan lokasi penyimpanan yang dikelilingi oleh lapisan batuan setebal sekitar 100 meter sebagai penghalang. Formasi geologis yang cocok adalah lapisan tanah liat, granit, atau batuan garam.