Menurut Starki, Rendi disebut tidak bersedia dengan pemindahan tersebut karena tidak sesuai dengan pekerjaan yang sebelumnya disepakati.
"Dia menolak karena tidak sesuai dengan kontraknya. Setelah itu dia sudah pasrah, mau mundur tidak bisa, mau tidak mau ikut alur. Tidak bisa kembali ke Indonesia karena paspornya ditahan," Ujarnya.
Setelah beberapa waktu berada di Rusia, komunikasi Rendi dengan keluarganya disebut terputus. Keluarga awalnya mengira telepon Rendi tidak aktif karena persoalan baterai atau kondisi lainnya.
Namun, keluarga kemudian mendapat informasi dari rekan Rendi di Indonesia bahwa Rendi telah meninggal dunia.
"Tak lama kemudian dapat telepon dari kawannya yang di Indonesia, itu dia sudah meninggal," kata Starki.
Bupati Natuna Cen Sui Lan menyikapi kabar ini. Pemerintah Kabupaten Natuna disebut tengah berkoordinasi dengan pihak keluarga.
"Dari Pemerintah Kabupaten sudah menegaskan Kesbangpol untuk berkoordinasi dengan keluarga. Informasi yang kita dapatkan masih simpang siur. Tentunya kita mengharapkan, kalau memang sudah meninggal, apa solusinya supaya bisa segera dibawa kembali," kata Bupati Cen Sui di rumah dinas Pemkab Natuna, Bukit Arai, Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Rabu (30/9/2026).
Cen Sui Lan mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait kabar tersebut. Pemkab Natuna menyampaikan duka kepada keluarga atas informasi yang didapat.
"Tetapi kita tetap harus berkoordinasi dengan pusat, karena saya kan tidak mungkin bekerja sendiri. Keberangkatan almarhum juga tidak kita ketahui. Ada informasi beliau sudah pernah ke Filipina, kemudian ke Rusia. Apa pun itu, Pemerintah Kabupaten Natuna sangat berduka. Kami sangat berduka ada anak-anak kami yang harus sampai ke luar negeri sebagai tentara," ujar dia.