Pusat kabupaten saat itu berada di Desa Kebonsari Kulon. Kyai Djojolelono kemudian meninggalkan jabatan sebagai bupati Banger pada 1768 setelah menyadari bahwa dirinya terlibat dalam politik adu domba VOC.
Kepemimpinan selanjutnya diteruskan oleh Raden Tumenggung Djojonegoro sebagai bupati Banger kedua. Pada masa kepemimpinan Djojonegoro, wilayah Banger berkembang dan jumlah penduduk bertambah. Ia juga mendirikan Masjid Jami' sekitar 1770.
Pada tahun yang sama, Tumenggung Djojonegoro yang kemudian dikenal dengan sebutan Kanjeng Djimat mengubah nama Banger menjadi Probolinggo. Nama tersebut berasal dari kata probo yang berarti sinar dan linggo yang berarti tugu, badan, tanda peringatan, atau tongkat.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Pemkab Pasuruan, sejarah Kabupaten Pasuruan berkaitan dengan perkembangan sejumlah kerajaan di Jawa, salah satunya Kerajaan Kalingga.
Pada 742-755 Masehi, pusat pemerintahan Kalingga disebut dipindahkan ke wilayah timur oleh Raja Kiyen, ke daerah yang disebut Po-Lu-Kia-Sien. Nama tersebut ditafsirkan sebagai Pulokerto, salah satu desa di Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.
Jejak sejarah Pasuruan kemudian terlihat pada masa Mpu Sindok. Pada 929 Masehi, Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Salah satu peninggalan dari masa tersebut adalah Prasasti Cungrang atau Sukci yang ditemukan di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol.