Oleh karena itu, Bobby memandang opsi impor KRL tidak baru yang telah diperbarui (refurbishment) menjadi cara paling realistis untuk 'menambal' kekurangan armada dalam waktu cepat.
"Jadi salah satunya yang kami akan usulkan itu adalah kita tambal dulu, Pak, dengan melakukan impor, ya, itu kereta-kereta yang tidak baru. Yang memang secara historis ini bagus, kemudian sudah melakukan refurbishment Pak, kayak pesawat-lah gitu," jelas Bobby.
Bobby memandang opsi tersebut sebagai solusi jangka pendek agar layanan KRL Jabodetabek tidak terganggu, mengingat target proyeksi penumpang harian bakal menembus 2,5 hingga 3 juta orang pada masa mendatang.
"Ini cara cepat, cara tepat yang bisa mengatasi kekurangan kapasitas di tahun 2026, 2027, 2028, sampai dengan 2029. Nah, sembari kita meningkatkan kapasitas produksi dari PT INKA," pungkasnya.