NADIKABAR.COM — Dua bersaudara, warga Desa Adat Cepunggung, Desa Bangbang, Kabupaten Bangli, bernama Putu Pramana Yoga (28) dan I Kadek Sayoga Putra (26) hingga kini belum ditemukan. Putra dan Yoga adalah penumpang KMP Virgo Transport 8 rute Surabaya-Banjarmasin yang tenggelam di Laut Jawa.

"Kemarin, kami mendapat kabar dari petugas pelabuhan di Banjarmasin. Katanya kapal KMP Virgo tenggelam. Saya kaget karena anak saya di kapal itu," kata I Nengah Tirta, ayah Yoga dan Putra, ditemui NadiKabar di rumahnya, Senin (14/9/2026).

Tirta mengungkapkan Yoga dan Putra berangkat dari Bali ke Pelabuhan Gilimanuk, Kamis (10/9/2026), pukul 13.00 Wita. Yoga dan Putra menumpang satu truk membawa peralatan upacara keagamaan pesanan seseorang di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Truk yang ditumpangi Yoga dan Putra sempat terjebak macet di Gilimanuk. Akhirnya, Yoga dan Putra dapat melanjutkan perjalanan dari Gilimanuk ke Banyuwangi, lalu berlanjut ke Surabaya, Jawa Timur.

"Hari Jumat sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Perak," kata Tirta.

Dia menuturkan saat tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Yoga dan Putra sudah terlambat. Dua adik kakak itu seharusnya menumpang KMP Dharma Kartika dengan jurusan yang sama.

Namun, KMP Virgo Transport 8 yang dipilih Yoga dan Putra. Mereka tak menaruh curiga karena kondisi fisik kapal yang masih terlihat baru dan layak.

"Anak saya baik kapal hari Sabtu pukul 09.00 WIB. Tapi, sempat komunikasi, baru naik kapal pukul 12.00 WIB. Naik KMP Virgo. Katanya, kapalnya baru dan masih bagus. Itu komunikasi terakhir," katanya.

Kini, Tirta dan keluarga lain masih menunggu informasi terbaru tentang nasib dua anaknya. Dia mengaku belum mendapat informasi apapun dari polisi maupun petugas pelabuhan di Banjarmasin.

"Kami masih menunggu di sini dan belum dapat informasi terbaru. Sedih juga karena belum mendapat kepastian," katanya.

Menurutnya, Putra dan Yoga bukan kali pertama bepergian dari Bali ke Kalimantan. Beberapa kali dua pemuda itu bepergian bersamanya, untuk mengantar pesanan alat upacara keagamaan di Kalimantan.

"Pesanan alat upacara ini seharusnya saya yang berangkat mengirim. Tapi saya sedang sakit. Jadi anak saya yang mengantar," katanya.