NADIKABAR.COM — Perlahan, Maria Tulia mengangkat sebatang kayu sepanjang 30 sentimeter berdiameter dua sentimeter. Ia memukulkannya ke kulit buah kakao yang menumpuk di wadah hasil panen.

Bukan sekadar memecahkan buah, bagi petani kakao di Dusun Nekan, Sanggau, Kalimantan Barat, itu setiap pukulan memecah buah adalah ikhtiar menjemput rezeki dari kebun yang dirawatnya bertahun-tahun. Kulit buah yang terbelah menampilkan biji-biji kakao basah, siap dipisahkan untuk dijual ke koperasi.

Di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia ini, aktivitas tersebut menyimpan harapan baru. Kakao tak lagi sekadar tanaman peneduh di pekarangan, melainkan mulai menjadi tumpuan ekonomi yang menjanjikan.

Sudah sekitar delapan tahun Maria membudidayakan kakao. Di lahan seluas satu hektare, kini tumbuh sekitar 200 batang pohon kakao. Ia bahkan mulai memperluas kebunnya di lahan tambahan seluas setengah hektare. Jarak tanam ideal sekitar empat meter antar pohon, memberikan ruang cukup bagi tanaman untuk tumbuh subur dan berbuah lebat.

Namun, perjalanan ini tak selalu mulus. Tanaman kakao butuh perawatan konsisten. Serangan jamur dan daun rontok menjadi ancaman serius yang bisa mematikan tanaman jika tak ditangani dengan benar. Bagi Maria, pemahaman mendalam tentang teknik budidaya adalah kunci agar kebunnya tetap produktif.

"Tantangannya ada di perawatan. Jamur bisa bikin daun rontok sampai tanamannya mati, jadi itu yang harus dikendalikan. Kami sangat butuh pemahaman budidaya yang baik supaya hasilnya bisa maksimal," ungkapnya.

Dalam sekali panen, kebun Maria mampu menghasilkan sekitar 40 kilogram biji kakao basah. Dengan frekuensi panen dua kali sebulan dan harga berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram, hasilnya terbilang lumayan.

Angka itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Maria, kakao menjadi alternatif pendapatan berharga di tengah ketergantungan warga pada komoditas lain, khususnya karet.

Dulu, karet merupakan tulang punggung ekonomi petani setempat. Saat kakao mulai masuk sekitar delapan tahun lalu, tak banyak yang meliriknya. Petani menanam seadanya tanpa bekal pengetahuan yang memadai, ditambah harganya yang terpuruk.

"Dulu kami cuma asal tanam dan harganya murah. Kalau sudah dikeringkan pun cuma dihargai sekitar Rp19.000 per kilogram," kenang Maria.

Keadaan perlahan membaik berkat adanya pendampingan dan pembenahan rantai pemasaran. Kehadiran Kalara Borneo bersama koperasi mitra memberi kepastian pasar sekaligus mendongkrak harga jual. Kini, biji kakao kering dari petani bahkan bisa dihargai hingga Rp60.000 per kilogram.

Maria dan para petani kini lebih memilih menjual biji kakao basah karena jauh lebih praktis. Setelah dipanen, mereka tinggal memecah buah dan mengumpulkan bijinya untuk disetorkan ke koperasi. Proses rumit seperti fermentasi dan pengeringan sepenuhnya ditangani oleh koperasi.

"Dulu semuanya kami kerjakan sendiri, tapi harganya tetap murah. Sekarang tinggal panen, pecahkan, lalu jual. Koperasi mitra Kalara Borneo yang bakal mengurus proses fermentasinya," tutur Maria.

Bagi Maria, perubahan ini bukan cuma soal nominal rupiah. Kepastian pasar memberi pelecut semangat bagi petani untuk tekun merawat dan memperluas kebun. Ia berharap harga kakao terus stabil dan membaik agar makin banyak warga yang tergerak menggeluti usaha ini.

"Harapannya harga terus bagus dan stabil. Sekarang sebagian besar warga sudah ikut menanam kakao. Ini jadi harapan baru untuk menambah penghasilan selain dari karet," katanya.

Kisah Maria hanyalah bagian kecil dari ikhtiar besar membangun ekosistem kakao di Kalimantan Barat. Di balik rimbunnya kebun petani, ada proses panjang untuk memastikan biji kakao lokal mampu memenuhi standar pasar. Salah satu penggerak di balik upaya ini adalah Kalara Borneo.

Pemilik Kalara Borneo, Yohana Tamara, mengungkapkan bahwa pengembangan kakao secara resmi dirintis perusahaannya sejak 2021. Namun, ketertarikannya pada komoditas ini sudah tumbuh sejak 2018 kala ia bertugas di Kabupaten Sintang.