Bessent dalam pernyataannya juga menyampaikan peringatan bagi pihak ketiga yang membantu Iran. Dia mengatakan bahwa Washington telah mengidentifikasi perantara keuangan yang memfasilitasi transaksi dengan Teheran.

"Kami telah melihat adanya fasilitator di seluruh dunia. Kami tahu siapa mereka. Mereka pun tahun siapa diri mereka, dan kami sedang menghentikan praktik tersebut," ujarnya.

Terkait durasi dan intensitas langkah ekonomi AS itu, Bessent tidak merinci apakah tekanan itu akan berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan, namun dia menegaskan bahwa tekanan kali ini "belum pernah terjadi sebelumnya".

Langkah ini menyusul rentetan sanksi AS sebelumnya terhadap industri penerbangan Iran dan ancaman "economic D-Day" yang dilontarkan Washington terhadap Teheran, serta janji Menkeu AS untuk memutus akses keuangan Iran.

China memberikan reaksi keras terhadap langkah Amerika Serikat (AS) melarang maskapai penerbangan Iran untuk beroperasi di seluruh dunia mulai 23 September. Otoritas Beijing secara terang-terangan menentang langkah Washington dan menyebutnya sebagai "sanksi sepihak ilegal".

China, yang merupakan mitra ekonomi utama dan pendukung diplomatik Iran, seperti dilansir AFP, Selasa (22/9/2026), mengecam langkah AS itu tidak memiliki dasar hukum internasional.

"China secara konsisten menentang sanksi sepihak ilegal yang tidak memiliki dasar hukum internasional atau otorisasi dari Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing.