Aktivitas peluncuran terbaru Korut ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea, akibat ledakan ranjau darat di Zona Demiliterisasi (DMZ) -- area perbatasan yang dijaga ketat dan memisahkan kedua Korea. Sedikitnya tiga tentara Korsel luka-luka akibat ledakan ranjau itu.

Investigasi gabungan antara Korsel dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang dilakukan awal bulan ini, menyimpulkan bahwa Korut-lah yang telah memasang ranjau darat yang meledak di DMZ tersebut. Tuduhan itu telah dibantah keras oleh Pyongyang.

Namun Seoul bersikeras menuntut Pyongyang meminta maaf atas ledakan ranjau tersebut. Kim Yo Jong, adik pemimpin Korut Kim Jong Un, mengecam tuntutan semacam itu sebagai tindakan "tercela".

Sementara itu, sepanjang Oktober ini, Korut terdeteksi telah meluncurkan beberapa rudal balistik jarak pendek dari wilayahnya. Sedangkan sepanjang tahun ini, Pyongyang dilaporkan telah melakukan uji coba rudal lebih dari 10 kali.

Meningkatnya ketegangan antara kedua Korea ini terjadi saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan langkah-langkah terbaru untuk berinteraksi dengan Korut. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Korsel, sekutu AS, bisa saja dikesampingkan dalam kemungkinan perundingan nuklir yang melibatkan Korut.