Suharyanto mengatakan lahan terbakar di Tanjung Puting seluas 513,89 hektare. Penanganan terus dilakukan melalui jalur darat.
"Yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah. Kenapa paling besar? Karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Per hari ini ada 513,89 hektare yang terbakar di sana. Meskipun bukan lahan gambut, lahan mineral, tetapi ini menjadi pekerjaan yang segera harus kami lakukan," ujarnya.
Ia mengatakan Pangdam Kalimantan Tengah sudah memimpin langsung penanganan karhutla di lapangan. Selain itu terdapat penambahan pasukan dan peralatan satgas darat untuk mengatasi karhutla.
Asap tebal menyelimuti Jalan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kondisi itu membuat jarak pandang hingga membahayakan kendaraan yang melintas.
Pantauan langsung tim detikKalimantan saat berkendara di lokasi, kabut asap pekat menutupi jalan hingga pengendara kesulitan melihat situasi dalam jarak beberapa puluh meter ke depan. Pengendara harus berhati-hati agar tidak terlibat kecelakaan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan.
Rata-rata pengendara melaju dengan kecepatan 30-40 km/jam. Pengendara memilih kecepatan sedang karena, jika berkendara pelan, mereka justru sesak napas karena menghirup kabut asap lebih lama.
Pengendara juga menyalakan lampu kendaraan demi bisa menambah jangkauan penglihatan serta bisa dideteksi pengendara lain dari depan dan belakang. Walaupun pengendara menggunakan helm dan masker, kabut asap tetap tembus dan terhirup serta membuat mata perih.
Salah satu pengendara bernama Rian mengatakan asap tebal itu terjadi sekitar pukul 07.25 Wita. Menurutnya, situasi tersebut sangat membahayakan, terlebih jika pengendara tidak fokus saat menyetir.
"Ini asapnya tebal sekali. Sangat mengganggu pernapasan dan jarak pandang sangat terbatas. Ini apabila tidak hati-hati, bisa membahayakan pengendara," kata Rian kepada detikKalimantan, Selasa (13/10/2026).
Warga Banjarbaru lainnya, Firman, juga merasa asap terus menebal dari hari ke hari. Namun anaknya tetap harus masuk sekolah seperti biasa dan tidak ada pembelajaran jarak jauh (PJJ).
"Tentu khawatir dengan kondisi ini, karena anak-anak sekolah normal, padahal asapnya terus menebal. Ini yang kita khawatirkan," sebutnya.