Selain datang lebih lambat, musim hujan 2026/2027 juga diprediksi berlangsung lebih singkat di sejumlah wilayah.
BMKG memperkirakan sebanyak 482 ZOM atau sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia akan mengalami durasi musim hujan yang lebih pendek dibandingkan kondisi normalnya.
Kondisi ini menjadi perhatian karena perubahan awal, puncak, maupun durasi musim hujan dapat memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari pertanian, pengelolaan air, hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana.
BMKG pun mengimbau pemerintah daerah dan sektor strategis untuk memanfaatkan periode kedatangan musim hujan dengan baik, antara lain melalui pengisian waduk dan perluasan area tanam.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan karena masuknya musim hujan biasanya diikuti meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
"Namun demikian bersama datangnya musim hujan, risiko bencana hidrometeorologi basah juga meningkat. Karena itu kami berharap informasi ini dapat diterjemahkan menjadi strategi adaptasi dan langkah antisipasi yang konkret, sehingga masyarakat dan para pemangku kepentingan tidak hanya lebih siap menghadapi risiko, tapi juga mampu memanfaatkan peluang yang hadir seiring dinamika iklim yang akan terjadi," kata Teuku Faisal Fathani.
Dengan prediksi tersebut, pertanyaan mengenai kapan musim hujan tiba di Indonesia tidak memiliki satu jawaban yang berlaku untuk seluruh wilayah. Sebagian daerah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026, sementara wilayah lainnya baru menyusul pada Desember 2026 atau setelahnya.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tetap mengikuti pembaruan informasi dari BMKG untuk mengetahui perkembangan musim hujan dan potensi cuaca ekstrem di wilayah masing-masing.