NADIKABAR.COM — Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengajak mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) untuk menguasai teknologi digital secara bijak dan produktif. Hal ini dimaksud agar mereka tidak menjadi korban maupun bagian dari berbagai kejahatan di ruang siber.

Pesan tersebut disampaikan Jenderal Sigit dalam Kuliah Umum pada Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UMSU Tahun 2026 di Kampus Utama UMSU, Kota Medan, Sumatera Utara, Senin (28/9/2026). PKKMB UMSU 2026 sendiri diikuti 6.027 mahasiswa, yang berasal dari berbagai bidang pendidikan, mulai dari agama, pendidikan, sosial-politik, pertanian, ekonomi, hukum, teknik, ilmu komputer dan teknologi informasi, kedokteran hingga jenjang pascasarjana dan doktoral.

Jenderal Sigit mengingatkan kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuka peluang besar bagi generasi muda untuk belajar, berinovasi, dan berkarya.

Namun, perkembangan tersebut juga diikuti beragam ancaman, mulai dari penipuan daring, pencurian data, phishing, judi online, hoaks, disinformasi, deepfake, hingga kejahatan berbasis AI. "Bangun karakter dan integritas, kuasai teknologi secara bijak dan produktif, berani berkarya serta mengambil peran di tengah masyarakat," ujar Jenderal Sigit.

Menurut Jenderal Sigit, tingginya penggunaan internet dan media sosial di Indonesia harus diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang baik. Sebab, ruang digital menjadi salah satu saluran utama masyarakat dalam menerima informasi.

Data Digital News Report 2026 mencatat 64 persen responden di Indonesia memperoleh berita melalui media sosial. Sementara itu, 48 persen responden menjadikan media sosial dan jaringan video sebagai sumber utama informasi.

Kondisi tersebut membuat masyarakat, khususnya generasi muda, perlu lebih kritis dalam menyaring setiap informasi. Jenderal Sigit mengingatkan agar mahasiswa tidak mudah percaya, menyebarkan, ataupun mengikuti narasi yang belum jelas kebenarannya.

Jenderal Sigit juga menyoroti fenomena bandwagon effect, yakni kecenderungan seseorang mengikuti pandangan atau tindakan yang telah dilakukan banyak orang. Dalam ruang digital, fenomena ini dapat mempercepat penyebaran hoaks, membangun sentimen publik, hingga mendorong ajakan kolektif yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Selain itu, kejahatan digital terus berkembang dengan memanfaatkan kebutuhan masyarakat. Peredaran narkoba, penipuan berkedok lowongan kerja luar negeri, perdagangan orang, dan penyebaran paham ekstrem turut menggunakan ruang digital sebagai sarana.

Karena itu, Jenderal Sigit mendorong mahasiswa UMSU menjadi pengguna teknologi yang bertanggung jawab. Mahasiswa harus mampu memanfaatkan perkembangan digital untuk meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, mengembangkan kreativitas, serta memberi kontribusi positif bagi masyarakat.

Jenderal Sigit berharap mahasiswa baru UMSU dapat menjadi generasi yang kuat secara karakter, cakap dalam memanfaatkan teknologi, serta mampu menjaga persatuan dan keamanan di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Di kesempatan yang sama, Jenderal Sigit menekankan pentingnya mempersiapkan diri sejak dini untuk menjadi generasi yang mampu membaca perubahan, beradaptasi terhadap tantangan, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Jenderal Sigit menempatkan mahasiswa sebagai bagian penting dari momentum bonus demografi Indonesia. Dalam paparannya, Indonesia disebut memiliki sekitar 290,1 juta penduduk dan akan memasuki periode bonus demografi pada 2030-2035.

Momentum tersebut harus diikuti peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, penciptaan lapangan kerja, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai pengetahuan akademik. Jenderal Sigit mendorong generasi muda menjadi pembelajar sepanjang hayat, membangun karakter dan integritas, menguasai teknologi secara bijak dan produktif, berani berkarya, serta mengambil peran di tengah masyarakat.

Mereka juga dipersiapkan menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, mampu memberi teladan, menjaga persatuan, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas perbedaan. Peran tersebut diterjemahkan secara konkret melalui kehidupan kampus dan masyarakat.

Di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa didorong menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi, menjaga keamanan dan ketertiban kampus, membangun budaya akademik yang sehat, serta mengembangkan kompetensi dan prestasi. Di luar kampus, mereka diharapkan menjadi agen perubahan, mendukung pembangunan, mendorong kemajuan masyarakat, sekaligus menjadi pelopor kamtibmas dan perekat persatuan.

Pesan itu semakin relevan di tengah perubahan lingkungan strategis global yang berlangsung cepat. Jenderal Sigit memaparkan perkembangan geopolitik, tekanan ekonomi, perubahan iklim, serta akselerasi teknologi dan kecerdasan buatan yang dapat membawa dampak berantai terhadap Indonesia. Kondisi tersebut menuntut lahirnya pemimpin yang adaptif, inovatif, kolaboratif, dan mampu mengambil keputusan tanpa kehilangan arah.

'Tahun 2045 merupakan panggung pembuktian bagi kalian dalam memimpin Indonesia' menjadi pesan kuat dalam materi kuliah umum tersebut. Dengan demikian, pendidikan di UMSU tidak hanya menjadi ruang memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari proses panjang menyiapkan generasi yang mampu mengisi pembangunan dan membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Jenderal Sigit juga mengajak generasi muda memandang perubahan bukan semata sebagai tantangan, tetapi juga sebagai ruang untuk tumbuh, berkarya, dan mengambil peran. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dinamika geopolitik, hingga perubahan sosial dan ekonomi menuntut lahirnya generasi yang mampu membaca arah perubahan sekaligus mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

Jenderal Sigit menegaskan pemimpin masa depan harus mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Untuk itu, mahasiswa didorong menjadi pembelajar sepanjang hayat dengan terus mengembangkan ilmu dan kemampuan beradaptasi.

Pendidikan, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter dan integritas. Generasi muda juga perlu menguasai teknologi secara bijak dan produktif, berani berkarya, serta mengambil peran di tengah masyarakat. Dengan bekal tersebut, mahasiswa dipersiapkan bukan hanya sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai individu yang mampu menciptakan peluang dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Pesan Jenderal Sigit juga menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari solusi atas berbagai tantangan pembangunan. Indonesia memiliki bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, serta potensi ekonomi yang besar. Seluruh potensi tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas agar dapat diubah menjadi kekuatan pembangunan dan kesejahteraan.