Sayangnya kedua karateka itu kalah dalam perebutan medali perunggu. Walaupun atlet Indonesia tersebut berangkat dari tim berbeda, namun pelatih Jintar Simanjuntak tetap memberikan dukungan terbaik untuk seluruh atlet.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB Forki) Ricky Muchtar, menyampaikan apresiasi atas prestasi dan semangat juang keempat karateka Indonesia tersebut.
"Saya sangat bangga dengan inisiatif, perjuangan dan prestasi para atlet karate Indonesia untuk berlaga di kejuaraan terbuka internasional ini. Walaupun keikutsertaan mereka bukan merupakan bagian dari program resmi tim nasional Indonesia, melainkan atas inisiatif mandiri dengan dukungan berbagai pihak, mereka tetap menunjukkan semangat juang yang luar biasa untuk meraih prestasi," ungkap Ricky dalam keterangan tertulisnya.
Dia secara khusus menyoroti pencapaian Zaskia yang langsung meraih perak pada debut internasionalnya di kelas senior.
"Zaskia ini menarik. Dia masih atlet junior, tetapi berani naik ke kelas senior dan menghadapi karateka ranking dunia seperti Fatemeh Sadeghi dari Iran, peraih emas Islamic Solidarity Games 2025 dan medali perunggu Kejuaraan Asia, serta Paola Garcia dari Spanyol. Bahkan pada penampilan pertamanya di level senior internasional, dia langsung meraih medali perak. Ini pencapaian yang sangat membanggakan dan menjadi pengalaman berharga bagi perkembangan kariernya," jelas Ricky.
Menurutnya, keberhasilan Ceyco mengalahkan juara Olimpiade hingga meraih emas juga membuktikan karateka Indonesia memiliki kualitas untuk bersaing di tingkat dunia.
"Prestasi Ceyco, Zaskia, serta perjuangan Zigi dan Leica menunjukkan bahwa atlet-atlet kita memiliki potensi besar. Semakin banyak kesempatan bertanding internasional yang mereka dapatkan, semakin baik pula pengalaman, mental, dan kualitas mereka. Semoga semangat dan inisiatif seperti ini terus mendapatkan dukungan dari berbagai pihak," tutupnya.