"Prioritas pertama bukan menambah destinasi, tetapi memastikan destinasi yang sudah kita jual kepada wisatawan benar-benar aman," kata Deni dalam perbincangan dengan NadiKabar.
Kondisi darurat di lapangan memperlihatkan minimnya kesiapan sarana penanganan krisis, mulai dari tidak adanya pemetaan titik rawan api hingga prosedur evakuasi yang jelas untuk wisatawan.
Ketidaksiapan itu tidak hanya mempertaruhkan keselamatan nyawa para pengunjung yang terjebak situasi panik, tetapi juga menghancurkan perekonomian masyarakat sekitar yang mendadak kehilangan sumber penghasilan akibat penutupan lokasi.
"Destinasi yang tidak aman bukan hanya membahayakan wisatawan, tetapi juga menghancurkan mata pencaharian dan reputasi pariwisata Indonesia," kata pria yang juga salah sau dosen di Vokasi UI itu.