Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember Purwantono mengonfirmasi bahwa titik api terdeteksi menyala sejak dini hari, sekitar pukul 00.00 WIB. Kobaran api terlihat jelas dari kejauhan karena kontras dengan kegelapan malam di area puncak.

Purwantono menjelaskan bahwa kondisi musim kemarau menjadi faktor utama yang memicu kerawanan kebakaran di kawasan konservasi tersebut. Vegetasi dan dedaunan kering yang menumpuk sangat mudah tersulut api, terlebih didukung oleh hempasan angin kencang di kawasan dataran tinggi.

Kendati titik kebakaran berada di kawasan Cagar Alam, Purwantono memastikan bahwa lokasi kobaran api saat ini belum menjangkau kawasan destinasi wisata Ijen. Kendati demikian, masyarakat, pengunjung, dan wisatawan imbau untuk meningkatkan kewaspadaan.

Untuk mengantisipasi perluasan kebakaran, BKSDA mengimbau keras seluruh pihak agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu timbulnya api.

Kebakaran itu terjadi saat kawasan Kawah Ijen juga sedang ditutup karena ada kegiatan Ijen Rijik, yakni program pembersihan rutin bulanan yang dilakukan oleh BKSDA selaku pengelola kawasan. Hingga kini belum ada pengunjung atau pendaki yang dilaporkan terdampak akibat kebakaran tersebut.

"Awalnya kebakaran diduga terjadi di sekitaran bibir kawah," kata penjaga situs Ijen Geopark kawasan Kawah Ijen, Ateki Arisandi.