NADIKABAR.COM — Sebanyak 218 kasus kebakaran terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), sepanjang 2026. Damkarmat Makassar menganggap kebakaran kian marak karena turut dipicu cuaca panas ekstrem saat kemarau.

"Ini kan tentu karena kemarau yang panjang kemudian tentu pada saat kemarau suhu meningkat. Kemudian barang-barang yang terpapar sinar matahari cukup sangat memungkinkan dan berpotensi menimbulkan api," ujar Kepala Damkarmat Makassar Fadly Wellang kepada NadiKabar, Kamis (27/8/2026).

Menurut Fadly, kebakaran juga terjadi akibat kelalaian manusia. Sebagian masyarakat dianggap masih sering membuang puntung rokok seenaknya hingga sengaja melakukan pembakaran sampah di lahan.

"Belum lagi kalau ada unsur pembakaran, kesengajaan, warga yang kemudian kerja bakti lupa matikan api, puntung rokok dan lain sebagainya di luar yang terjadi di rumah ya seperti listrik," katanya.

Fadly menyebut kemarau panjang disertai intensitas angin sangat mudah membuat api menyebar hingga potensi pohon tumbang. Di sisi lain juga berimbas terhadap kekurangan air.

"Kan di mana-mana ini kemarau pasti berangin jadi selain ada itu risiko pohon tumbang. Ini kan bencana kekeringan yang mengakibatkan sumber-sumber air banyak yang mengering, sumur-sumur warga kemudian sumber air yang masuk di PDAM," jelasnya.

Maraknya kebakaran di Makassar membuat petugas selalu siaga untuk upaya pemadaman. Kendati begitu, ia mengatakan seringkali dihadapkan dengan hambatan di jalan saat upaya melalui jalur untuk cepat tiba di lokasi.