βJika kita menggunakan bahasa agama dalam mengembangkan diplomasi, yaitu diplomasi hati nurani, jangan-jangan itulah yang ditunggu oleh masyarakat kita. Diplomasi formal seperti sekarang ini ternyata belum berhasil menghentikan peperangan,β ujarnya.
Menag menggambarkan dampak peperangan dengan ungkapan, βkalah jadi abu, menang jadi arangβ. Karena itu, tokoh agama dinilai memiliki ruang untuk menghadirkan pesan yang menyentuh hati nurani para pihak yang berkonflik.
Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal itu, pelibatan tokoh agama menjadi penting, karena kedekatan mereka dengan masyarakat. Imam, misalnya, tidak hanya memimpin ibadah, tetapi di banyak negara juga menjadi pemimpin komunitas yang berinteraksi langsung dengan umat.
βImam itu ternyata adalah figur yang paling efisien dan efektif dalam berjumpa dengan masyarakat. Mereka itu tokoh masyarakat. Kalau di luar negeri, imam itu bukan hanya memimpin shalat, tapi juga menjadi pemimpin umat,β ujar Menag.
Pengalaman IGIC 2026, kata Menag, menunjukkan adanya kepercayaan dari para imam dunia terhadap gagasan yang ditawarkan Indonesia.