NADIKABAR.COM — Kementerian Kebudayaan menghadirkan Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 di 10 kabupaten/kota di Indonesia sebagai upaya menghadirkan ruang perjumpaan antara musik tradisi, pengetahuan, komunitas, seniman, dan masyarakat serta menggerakkan ekonomi berbasis budaya.
“Kita harus hadir di berbagai lokus, tempat, yang sekarang ini memiliki banyak persaingan dengan berbagai genre musik yang ada di Indonesia dan di dunia. Merajut bayang-bayang berarti juga mempertemukannya, menenun menjadi satu kain yang dapat kita lihat dan rawat bersama,” ujar Menbud dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.
FMTI sebagai program tahunan yang berlangsung sejak 2021 ini dijadwalkan akan diselenggarakan juga di Wonosobo, Maumere, Makassar, Kuningan, Aceh, Mataram, Pontianak, Bengkulu, hingga Batusangkar.
“Ada Didong di Dataran Tinggi Gayo, Dol di Bengkulu, Talempong di Tanah Datar, Gendang Beleq di Lombok, Bundengan di Wonosobo, Angklung Gubrag di Bogor. Dan semua lahir dari ekosistem kesenian yang kuat dan bertahan karena dijaga oleh masyarakatnya sendiri,” ujarnya.
Menbud saat membuka rangkaian di Bogor, mengatakan bahwa tema ‘Bambu dan Bunyi Ritus’ dipilih karena memiliki makna mendalam. Bambu dipilih bukan semata karena bahan alat musik, melainkan juga karena bambu sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Sunda.
Bambu selalu hadir dalam kehidupan sosial, lingkungan, simbol, budaya, hingga praktik ritual.
“Bunyi yang lahir dari bambu membawa cerita tentang hubungan manusia dengan alam dan kebudayaannya. Musik adalah jiwa budaya dan suara zaman denyut nadi kehidupan bangsa,” katanya.
Indonesia, lanjut dia, memiliki kekayaan budaya yang luar biasa atau megadiversity. Salah satu ekosistem seni yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Kebudayaan adalah musik, termasuk musik tradisi, musik klasik, dan musik kontemporer.
Setidaknya tercatat lebih dari 1.000 jenis musik tradisional yang tersebar di berbagai daerah.
Dengan kekayaan budaya tersebut, ia pun mengajak masyarakat untuk turut serta mengembangkan, berkreasi dengan inovasi baru sehingga mampu menggerakkan ekonomi berbasis budaya.
FMTI menempatkan musik tradisi sebagai bagian utama dalam perhelatan seni dan budaya.
Penyelenggaraan FMTI di Kabupaten Bogor hadir dengan nama Sangitaloka, yang berasal dari kata saṅgīta yang berarti musik atau seni pertunjukan dan loka yang bermakna ruang atau dunia.
Sangitaloka memiliki arti sebagai dunia musik yang mempertemukan tradisi, pengetahuan, masyarakat, dan ekspresi artistik dalam satu ekosistem kebudayaan.
Sangitaloka menghadirkan para seniman yang merepresentasikan keberagaman musik tradisi di Bogor dan sekitarnya, antara lain Jagat Layung, Kalingga, Gamelan Cibatokan, Angklung Gubrag Dogdog Lojor, Bilik Jasinga, Gamelan Ajeng, dan Bajidoran, serta Rita Tila sebagai bintang tamu.
Pagelaran ini dirancang untuk menghadirkan karya yang tetap berakar pada tradisi sekaligus terbuka terhadap tafsir artistik yang segar dan komunikatif bagi publik masa kini.