"Program residensi seniman antarnegara membawa keragaman tradisi melalui proses belajar bersama dan penciptaan karya seni kolaboratif. Inilah transisi nyata yang menjadi tujuan bersama, di mana perjumpaan budaya menjadi jejaring budaya yang berkelanjutan," jelas Fadli.

"Selain itu, gelar seminar ini juga mengusung hubungan antara kebudayaan dan pembangunan berkelanjutan," sambungnya.

Topik krisis iklim dan ancaman terhadap warisan budaya juga menjadi perhatian dalam diskusi 'Beyond Cultural Exchange' IPCC 2026. Fadli menuturkan kenaikan permukaan air laut di Pasifik Barat Daya dan berbagai risiko iklim mengancam situs-situs warisan dunia serta ruang hidup leluhur.

Pengetahuan tradisional maritim dan ekosistem pesisir dinilai sangat berharga untuk menyusun strategi adaptasi iklim.

"Bagi masyarakat Kepulauan Pasifik, warisan budaya, keberlanjutan lingkungan, dan ketahanan komunitas saling terhubung satu sama lain. Ancaman-ancaman ini dapat menyebabkan kehilangan tradisi budaya, situs-situs sakral dan keberlangsungan komunitas," ungkap Fadli.

"Oleh karena itu, kami turut menyerukan kerja sama dalam penelitian, dokumentasi, dan transmisi pengetahuan antargenerasi di kawasan Pasifik," lanjutnya.