Suyanti mengatakan partikel halus PM 2.5, karbon monoksida dan nitrogen dioksida, serta senyawa organik lainnya akibat kebakaran hutan dapat memicu gangguan kesehatan seperti ISPA hingga asma. Dia mengatakan asap akibat karhutla juga dapat memicu gangguan mata dan kulit.

"Tentunya kelompok rentan sangat kita perhatikan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), maupun pekerja di luar ruangan," kata Then Suyanti.

Kemenkes telah menyiapkan layanan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak. Dia mengatakan ada 1.691 puskesmas dipersiapkan termasuk mobilisasi bantuan logistik, rumah sakit rujukan termasuk Labkesmas.

"Pemerintah daerah juga sudah menyiapkan rumah oksigen ya, sebanyak 491 rumah oksigen yang sudah tersedia di masing-masing wilayah. Dan SDM kesehatan pun kami pantau untuk kesiapan daripada penanganan dampak karhutla ini," ucapnya.