“Jadi, kita harapkan deteksi dini dari skrining jiwa CKG, kemudian pemeriksaan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) puskesmas, itu bisa mendistribusikan ke mana seorang pasien itu akan dirujuk dan akan mendapat fasilitas yang tepat untuk rujukan itu,” ujar Sunarto.
Layanan kunjungan ke rumah, lanjut Sunarto, serta penguatan kerja sama dengan komunitas, dan optimalisasi peran rumah sakit juga dijalankan sebagai strategi penanganan kesehatan jiwa.
Sunarto menjelaskan bahwa dari 10.300 lebih puskesmas di Indonesia, 65 persen diantaranya telah dilengkapi dengan tenaga kesehatan terorientasi layanan jiwa.
“Jadi, ada layanan untuk psikologi dan layanan kesehatan jiwa, dan puskesmas itu dilengkapi dengan minimal 5 obat untuk kesehatan jiwa, antara lain obat penenang dan obat untuk mencegah kecemasan,” ujar Sunarto.