Ni Luh mencontohkan pendekatan itu dapat diterapkan pada sektor MICE. Peserta konferensi atau pertemuan tidak hanya mengikuti agenda utama, tetapi dapat melanjutkan perjalanan dengan menikmati kuliner, mengunjungi atraksi, atau mengikuti aktivitas yang memperkenalkan budaya dan karakter daerah tempat acara berlangsung.
Arah tersebut menjadi salah satu fokus Go Beyond Ordinary, dengan pemasaran pariwisata diarahkan tidak hanya pada destinasi, tetapi juga pengalaman yang dapat ditemukan wisatawan.
Kementerian Pariwisata, katanya, juga memperkuat lima wisata minat khusus melalui Program Pariwisata Berkualitas, yakni gastronomi, bahari, kebugaran, wastra, serta wisata seni dan desain.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menambahkan minat terhadap pengalaman semakin terlihat pada wisatawan muda. Dalam kajian yang dipaparkannya pada Indonesia Tourism & Mice Outlook 2027, sekitar 52 persen wisatawan Gen Z melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman.