TechnoGIS mengembangkan teknologi geospasial, antara lain NiVO VTOL yang mampu menyediakan data dan analisis geospasial secara real time untuk pemetaan wilayah terdampak bencana. Perusahaan tersebut juga mengembangkan Blue Marine Echosounder untuk pemetaan bawah laut dan perubahan alur sungai akibat sedimentasi atau banjir.
Sementara itu, BATARI Energy mengembangkan solusi energi surya dan energy storage, termasuk panel surya serta perangkat energi portabel untuk penyediaan energi darurat pascabencana. Baterai berkapasitas tinggi dan berbobot ringan juga dikembangkan untuk mendukung pengoperasian drone dalam pemetaan wilayah terdampak bencana.
Selain teknologi, Kemenperin memperkuat penyiapan sumber daya manusia (SDM) industri. Politeknik APP Jakarta melalui Program Studi D3 Manajemen Logistik Industri Elektronika menyiapkan kompetensi logistik yang berkaitan dengan mitigasi, penanganan keadaan darurat, dan pemulihan pascabencana.
"Kementerian Perindustrian terus memperkuat terwujudnya ekosistem kemandirian teknologi kebencanaan, termasuk kesiapan sumber daya manusianya. Harapannya, ke depan Indonesia akan semakin mampu membangun teknologi yang bermanfaat dalam penanganan bencana alam. Bukan sekadar teknologi canggih, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat dirasakan kehadiran dan manfaatnya oleh masyarakat," tutur Adie.