KPM tidak hanya membutuhkan pendampingan teknis terkait pengembangan usaha, tetapi juga pendampingan sosial dan mental secara intensif agar memiliki motivasi, kepercayaan diri, serta kemampuan untuk mengembangkan kehidupannya secara mandiri.

Lebih lanjut, Abdurrahman mengungkapkan, untuk mendukung pelaksanaan pendekatan graduasi, pihaknya akan memfasilitasi orientasi bersama atau joint orientation bagi para pendamping PKH maupun pendamping yang disediakan oleh pemerintah daerah.

Abdurrahman menyebut, NTB menjadi salah satu wilayah pilot project pendekatan graduasi tersebut.

"Saya menyebutnya sebagai joint orientation, orientasi bersama antara pendamping PKH dengan pendamping lokal yang disediakan oleh (pemerintah) daerah untuk PPSE. Jadi mereka kita latih secara bersama, bisa saja nanti teman-teman pendamping PKH itu bertindak sebagai supervisor atau kordinator," jelas Abdurrahman.

"Itu yang akan kita lakukan dan difasilitasi oleh BRAC, Pak Wamen, yang di NTB," tambahnya.

Turut hadir dalam pertemuan ini, Dirjen Pemberdayaan Sosial (Dayasos) Kemensos Mira Riyati, Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil dan Kewirausahaan Sosial Kemensos I Ketut Supena, dan Direktur Dayasos Kemensos Radik Karsadiguna.

Sementara itu, dari pihak BRAC hadir Senior Specialist-PDI Ekki Syamsulhakim, Senior Associate-MEL Nabillah Ulfah, dan Program Coordinator - West Sumatra Zulkifli Kahar.