"Ada yang ditangkap terus kemudian untuk menjadi bahan bakar untuk menjadi energi. Sebetulnya itu bisa dilakukan, ya. Ada juga skema-skema untuk karbon kredit gitu ya, untuk pengendalian gas metana dan pemanfaatan," terangnya.

Menurutnya Berdasarkan asesmen di lapangan, cakupan area yang terbakar dinilai tidak terlalu masif, dan kapasitas penanganan darurat telah dikerahkan secara optimal dengan sistem gotong royong lintas wilayah se-Solo Raya. Maka saat ini belum diperlukan peningkatan status darurat Kejadian Luar Biasa (KLB).

"Oh belum, belum sampai ke situ ya (KLB). Saat ini asesmennya adalah ini dalam pengendalian. Dengan asesmen KLH adalah kapasitasnya ada, cukup pada saat ini untuk melakukan pengendalian. Jadi, eh, silakan dilakukan. Walaupun kalau ini membesar atau bagaimana, jangan terjadi ya. Kami siap untuk ada perbantuan dari BNPB gitu ya dan juga kita akan minta bantuan dukungan eh dari mitra-mitra yang lain. Ya.. Tapi, semoga tidak perlu sampai ke situ," pungkasnya.

Untuk diketahui, TPA Putri Cempo terbakar sejak hari Rabu (2/9) sekitar pukul 18.00 WIB. Pada pantauan NadiKabar di lokasi pada Kamis (3/9) pukul 18.10 WIB, ternyata api masih berkobar.

Area yang terbakar mencakup tiga blok, yakni B, C, dan D. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo, Budi Murtono, mengungkapkan bahwa total area yang terbakar mencapai sekitar 6 hektare.