Menurut Anggoro, pihaknya masih menghadapi berbagai tantangan, seperti aksesibilitas dan penyediaan material, utamanya di daerah-daerah pedalaman. Untuk mencapai lokasi, dibutuhkan biaya yang cukup besar.

"Oleh sebab itu kami menggandeng pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk mengatasi kendala tersebut, termasuk Bank Papua dalam memfasilitasi rekening bagi penerima manfaat baru," ujarnya.

Selain itu, pihaknya merekrut tenaga pendamping masyarakat atau fasilitator secara simultan dalam jumlah besar, termasuk melibatkan lulusan perguruan tinggi untuk mempercepat pendampingan penerima bantuan.