"Ini pengalaman pertama saya menanam mangrove dan prosesnya sangat menarik. Saya berharap pohon-pohon ini tumbuh subur hingga kelak menjadi daya tarik wisata yang memberi manfaat ekonomi serta lingkungan bagi masyarakat setempat," ujar Delegasi Summer Course asal TUM, Vincent Luis Mai.
Sementara itu, perwakilan Universitas Diponegoro, Prof. Wiwandari Handayani, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar teori di dalam kelas, melainkan aksi nyata di lapangan.
"Kita ingin membawa global perspective ke kawasan transmigrasi. Melalui kombinasi pengalaman masyarakat lokal, akademisi yang memahami kondisi Indonesia, serta mahasiswa internasional, kita dapat menghasilkan solusi yang lebih inovatif. Konsep Green Design yang dirancang tidak hanya berfokus pada fisik," ujar Prof. Wiwandari.
Selain kegiatan lapangan, rangkaian Summer Course 2026 juga diisi dengan sesi diskusi intensif bersama kelompok nelayan, petani, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan pelaku UMKM. Sesi dialog ini menjadi ruang konfirmasi bagi peserta untuk memastikan rancangan konsep yang dibuat dapat diterima dan diimplementasikan di kawasan transmigrasi.
Pada Summer Course 2026, terdapat empat fokus utama, yaitu Pertanahan dan Ekonomi, Pengelolaan Lanskap, Pengembangan Masyarakat dan Sosial, serta Rekayasa Lingkungan. Hasil kerja kelompok para delegasi akan dipamerkan dalam ekshibisi dan festival budaya pada Sabtu, 10 Oktober 2026.