Berbicara tentang alasan, laporan Premium Times menyebut pemimpin 3 negara yang ingin keluar UK menganggap status quo tidak bisa berkelanjutan. Karenanya, mereka menyerukan hak untuk menentukan masa depan sendiri.
"Untuk pertama kalinya, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara dipimpin oleh para first minister yang pro kemerdekaan. Tidak ada tanda yang lebih jelas bahwa status quo tidak berkelanjutan dan bahwa Westminster harus mempersiapkan diri untuk masa depan pasca Inggris Raya," ujarnya, dikutip dari Premium Times pada Senin (14/9/2026).
Ucapan senada dilontarkan oleh First Minister Wales Rhun Ap Iorwerth. Ia mengatakan ketiga wilayah tengah memperbincangkan kemungkinan kerja sama untuk memperoleh sikap 'berbeda' dari pemerintah Inggris.
"Hal itu bisa berkaitan dengan masalah konstitusional, atau, yang lebih mendesak, berkaitan dengan pendanaan yang adil, memastikan sumber daya dibagi dengan cara yang adil, yang terasa setara, sehingga kita memiliki wewenang untuk membangun masa depan bagi orang-orang yang kita wakili," katanya saat berbicara di acara Sunday With Laura Kuenssberg BBC.
Pun, Menteri Pendidikan Skotlandia Mairi McAllan menganggap referendum kemerdekaan sebagai momen perubahan transformatif. Tujuannya, memampukan Skotlandia berdiri sendiri di dunia demi kehidupan lebih baik.
Pertanyaan dasarnya, mengapa sedari awal Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara tergabung di UK? Berdasarkan penjelasan di laman History, semua bermula ratusan tahun silam.
Pada akhir abad ke-13, Raja Edward I dari Kerajaan Inggris sukses menaklukkan Wales. Ia memasukkan Wales ke dalam wilayah kekuasaan Inggris. Tak berhenti, Edward kemudian menginvasi Kerajaan Skotlandia. Namun, Skotlandia terlalu gigih untuk dibuat bertekuk lutut.