"Kita melayaninya kan Rp15 ribu dikalikan jumlah anak sekolah, ya, tetapi bahwa waste (limbah)-nya itu kan yang menjadi perhatian, misal antara satu siswa dengan siswa yang lain itu kan ada tubuhnya kecil, misalnya sama-sama kelas 5 SD kan ada yang kecil, yang besar, gitu, tentu makannya kan berbeda," ujar dia.

"Nah, tadinya kan kecil-besar kan porsinya sama, ini sekarang kan porsi besar-kecil sama (dalam satu prasmanan), tetapi kalau ada yang (porsinya) besar dan dia mau nambah, ada sisa, dia boleh nambah," katanya.

Kepala BGN menambahkan, saat ini pihaknya telah membuat percontohan atau piloting MBG prasmanan di beberapa daerah, di antaranya Pulau Jawa, Aceh, Palembang, bahkan juga ada yang di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T), salah satunya Merauke.