NADIKABAR.COM — Koalisi Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu masih mempertahankan keunggulan sementara di Pemilu Israel. Data dari Komite Pemilu Pusat Israel menunjukkan koalisi Netanyahu unggul atas kubu oposisi yang dipimpin oleh Gadi Eisenkot.
Dengan data penghitungan sementara menunjukkan 66,2 persen suara telah dihitung per Rabu (28/10), pukul 09.20 waktu setempat, seperti dilansir The Times of Israel, Rabu (28/10/2026), Partai Likud yang menaungi Netanyahu masih berada di posisi pertama dengan 28 kursi parlemen, disusul oleh Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot di posisi kedua dengan perolehan 21 kursi parlemen.
Jika dihitung berdasarkan blok politik yang terbentuk, maka berdasarkan hasil sementara itu, koalisi sayap kanan Netanyahu masih unggul dengan memperoleh total 56 kursi parlemen, sedangkan kubu oposisi pimpinan Eisenkot baru memperoleh total 48 kursi parlemen.
Partai-partai Arab, yang juga menentang Netanyahu namun tidak berkoalisi dengan oposisi, mengamankan total 16 kursi. Dengan total 120 kursi parlemen atau Knesset diperebutkan dalam pemilu legislatif ini, maka diperlukan setidaknya 61 kursi untuk mencapai mayoritas parlemen dan membentuk pemerintahan baru.
Sejauh ini, tidak ada blok politik utama yang mencapai ambang batas 61 kursi tersebut, sehingga kemungkinan akan terjadi negosiasi koalisi yang alot. Hasil tersebut bersifat sementara dan akan terus berubah seiring berlanjutnya penghitungan suara.
Suara yang diberikan melalui amplop ganda, termasuk suara dari para tentara Israel, akan dihitung kemudian. Diperkirakan hasil akhir resmi untuk pemilu Israel akan diumumkan paling lambat 4 November
Pemimpin partai Arab dalam pemilu Israel, United Arab List atau Ra'am, Mansour Abbas, mengharapkan agar partainya dan kubu oposisi dapat menjalin koalisi dengan kubu oposisi. Hal ini demi menggulingkan pemerintahan Netanyahu.
"Saya berharap kita dapat mengubah pemerintahan ini dan jumlah kursi yang terkumpul mencapai 61 kursi, yakni dari blok oposisi bersama dengan Ra'am," ucap Abbas saat berbicara kepada saluran televisi Israel, Channel 12, pada Rabu (28/10) dini hari.
"Dengan jumlah kursi yang kita miliki saat ini, tidak ada pemerintahan yang bisa terbentuk," katanya.
Abbas merujuk pada hasil penghitungan sementara yang dirilis Komite Pemilu Pusat Israel, yang sejauh ini menunjukkan tidak adanya blok politik utama yang mencapai ambang batas 61 kursi untuk mencapai mayoritas parlemen dan membentuk pemerintahan baru.