NADIKABAR.COM — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyoroti waktu pengiriman dan penyajian makanan dalam kasus dugaan keracunan massal yang dialami ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Khofifah menyebut adanya dugaan keterlambatan dalam menyajikan makanan kepada para santri. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu temuan penting dalam penyelidikan kejadian luar biasa (KLB) keracunan yang berkaitan dengan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"Diduga ada keterlambatan dalam menyajikan makanan kepada para santri," kata Khofifah saat memberikan keterangan terkait penanganan kasus tersebut di RSI Siti Hajar Sidoarjo, Kamis (3/9/2026).
Berdasarkan hasil penyelidikan dan evaluasi terhadap penerima makanan dari SPPG yang sama, terdapat 18 lembaga penerima. Dari jumlah tersebut, 17 lembaga dilaporkan berjalan aman, sementara satu lokasi mengalami masalah kesehatan.
Perbedaan yang ditemukan berada pada waktu pengiriman dan penyajian makanan. Pada lembaga yang aman, makanan disebut selesai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB, kemudian dikirim sekitar pukul 07.00 WIB dan disantap sekitar pukul 10.00 WIB. Jeda dari proses memasak hingga makanan dikonsumsi sekitar lima jam atau kurang.
Sementara di lokasi yang mengalami kasus, makanan baru dikirim sekitar pukul 11.00 WIB dan kemudian disantap sekitar pukul 12.30-13.00 WIB. Namun, terdapat jeda waktu yang cukup panjang sejak makanan selesai dimasak hingga dikonsumsi.