أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Artinya: "Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra': 78)
Mengapa fajar menjadi momentum yang begitu krusial? Karena di waktu inilah ujian terberat bagi seorang manusia berlangsung. Fajar adalah medan tempur spiritual tempat bertemunya rasa kantuk, kehangatan tempat tidur, dan bisikan hawa nafsu dengan ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Jika dua rakaat sunnahnya saja sudah bernilai lebih baik daripada dunia beserta seluruh isinya, lantas bagaimanakah dengan ibadah pokoknya, yaitu Salat Subuh Berjemaah di Masjid?
Kesempurnaan sosok Lelananging Jagat tidak berhenti pada dua rakaat qobliyah di rumah atau di masjid, tetapi berlanjut dengan merapatkan shaf pada salat Subuh berjemaah di rumah Allah. Rasulullah SAW memberikan jaminan perlindungan penuh dari Allah SWT bagi orang yang melangkahkan kakinya menunaikan salat Subuh berjemaah. Beliau bersabda:
مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللّٰهِ
Artinya: "Barangsiapa yang salat Subuh (berjemaah), maka ia berada dalam jaminan perlindungan Allah." (HR. Muslim)
Bayangkan, jamaah sekalian! Orang yang menjaga qobliyah subuh mendapatkan pahala melampaui isi dunia, dan ketika ia melanjutkan dengan salat Subuh berjemaah di masjid, ia berada di bawah perlindungan dan garansi keamanan langsung dari Allah SWT sepanjang hari. Bukankah ini gambaran nyata dari seorang penguasa dunia yang sesungguhnya? Ia dilindungi oleh Penguasa Semesta Alam.
Bahkan, melangkahkan kaki di kegelapan subuh menuju masjid adalah simbol keperkasaan iman seorang laki-laki. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira dalam hadisnya:
بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: "Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Sebaliknya, Al-Qur'an mengingatkan kita agar tidak menjadi golongan orang yang kerdil karena kalah oleh hawa nafsu dan menyia-nyiakan kewajiban salat. Allah SWT berfirman dalam Surah Maryam ayat 59:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Artinya: "Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan." (QS. Maryam: 59)
Jamaah yang Sama-sama Mengharap Rahmat Allah
Gelar Lelananging Jagat versi syariat Islam tidak memerlukan stempel manusia, jubah kebesaran, atau kekayaan melimpah. Keperkasaan seorang lelaki muslim dinilai dari kriteria spiritualnya:
1. Keperkasaan Menundukkan Nafsu: Pria sejati adalah yang sanggup menyingkap selimut tebal, mengambil wudhu, dan mengalahkan rasa malas di waktu fajar.2. Kecerdasan Berinvestasi: Ia merawat dua rakaat qobliyah subuh karena tahu nilainya melampaui harta kekayaan dunia yang fana.3. Keteguhan Melangkah ke Rumah Allah: Ia mengokohkan imannya dengan berjalan menuju masjid untuk mendirikan salat Subuh berjemaah, memakmurkan rumah Allah, dan mengikatkan dirinya dalam perlindungan Sang Maha Pencipta.