Beruntung kita sebagai Muslim, di mana Islam mengajarkan konsep zuhud, yaitu tidak melekatkan hati pada hal-hal duniawi yang fana. Dalam konteks media sosial, zuhud berarti bijak membatasi waktu layar (screen time) dan menyeleksi apa yang layak masuk ke dalam pikiran dan hati kita. Jika sebuah akun atau perdebatan hanya mendatangkan emosi dan prasangka buruk, batasilah, bila perlu tinggalkanlah.
Kedua, Menerapkan Etika Tabayyun sebelum Berbagi (Sharing)
Banyak perselisihan dan kegaduhan di media sosial berakar dari informasi palsu (hoaks), rumor, dan narasi provokatif. Islam melarang keras sikap tergesa-gesa dalam menyebarkan berita tanpa kejelasan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."
Memverifikasi informasi sebelum menekan tombol share adalah bentuk pertanggungjawaban iman. Kelak di akhirat setiap jemari kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
Ketiga, Menjaga Hati dari Penyakit Hasad (Iri Hati) dengan Qana'ah
Di media sosial, orang-orang cenderung hanya menampilkan pencapaian, kebahagiaan, dan kemewahan (pamer/riya). Hal ini sering memicu penyakit hati berupa rasa iri (hasad) dan perasaan kurang bersyukur atas nikmat diri sendiri.
Rasulullah SAW memberikan resep ampuh untuk mengatasi hal ini:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Muslim)
Menanamkan sifat qana'ah (merasa cukup dan bersyukur) akan melindung kita dari jebakan komparasi sosial yang merusak kedamaian jiwa.
Keempat, Mengembalikan Ketenangan Hati melalui Zikrullah
Riuhnya media sosial adalah suara-suara manusia yang sering kali fana dan semu. Ketenangan yang sejati hanya akan didapatkan manakala kita kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui zikir, tadabbur Al-Qur'an, dan salat yang khusyuk.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28: