Peneliti juga menemukan bahwa algoritma X ternyata lebih sering mempromosikan unggahan yang justru bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut pengguna, dibanding yang selaras. Ini kenapa, kita lebih sering menemukan konten yang tidak kita sukai.
Padahal, ditemukan bahwa sejak awal pengguna X cenderung mengikuti akun-akun yang sesuai dengan prinsip dan nilai yang mereka pegang.
Dalam hipotesis yang digunakan peneliti, terdapat analisis jenis interaksi yang dilakukan pengguna, mulai dari like hingga komentar. Hasilnya, banyak pengguna menanggapi unggahan yang bertentangan dengan mereka.
Jenis interaksi ini penting karena X menangkap sinyal komentar lebih penting dari jumlah 'like'. Peneliti berpendapat bahwa algoritma X belajar paling kuat dari kolom komentar. Akibatnya, algoritma cenderung menampilkan unggahan yang bertolak belakang dengan preferensi pengguna.
Mengutip Tech Times, algoritma merupakan model komputasi yang dirancang untuk memprediksi apa yang mungkin disukai pengguna berdasarkan pola data pengguna berupa riwayat tontonan, pencarian, hingga interaksi untuk memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi.