"Jadi untuk mendapatkan LoA itu aku itu kemarin juga ikut International Physics Olympiad, Physics Olympiad, dan juga aku dulu menjadi wakil ketua OSIS di SMA aku," ujar Clarissa.

Dari 14 kampus tersebut, akhirnya Clarissa memilih UC San Diego. Alasan ia melabuhkan pilihannya di UCSD karena ekosistem robotik di sana cukup kuat.

"Aku pilih UC San Diego karena UC San Diego itu sangat bagus robotiknya. Kayak the main robotics simulators gitu itu dari San Diego. Dan selain itu UC San Diego itu ada di California dan California itu banyak banget startup culture-nya itu kayak sangat tinggi gitu," tuturnya.

Pada tahun pertamanya menempuh kuliah di sana, Clarissa sudah membangun start up bernama Clean AI Labs. Bahkan, start upnya berhasil menembus Y Combinator (YC) salah satu akselerator startup paling bergengsi di dunia.

Mulanya, Clarissa dan rekan di start up lain sering mengikuti hackaton. Setelah memenangi banyak hackaton, start upnya bisa dengan mudah didanai investor.

"Nah, dari hackathon itu kita dapat funding 50.000 dolar dari salah satu startup accelerator yang di San Francisco juga. Ya dari situ kita udah kayak buat-buat projeklah. Dan di summer ini kita itu juga membuat lebih banyak projek dan akhirnya kita itu di-back sama Y Combinator," tuturnya.