Hari-harinya dihabiskan dengan mengasah kemampuan motorik sembari terus memeras ide untuk menyapa audiensnya. Kerja keras itu membuahkan hasil yang luar biasa, 17 karya tulis telah lahir dari pemikirannya. Salah satunya adalah buku berjudul Roda yang Berputar Dalam Cahaya, sebuah memoar tentang perjuangan seorang tunadaksa melawan keterbatasan.

Karya lainnya seperti Neo Quantum Tumaninah, Disabilitas, hingga Mutiara Di Balik Merapi menjadi saksi bisu bagaimana jemari Dini bekerja keras mengikuti perintah otaknya yang sering kali tak sinkron akibat kondisi kesehatannya.

"Saya suka menulis, makanya jadi ghostwriter juga. Kadang saya menulis 11 jari, cuma mengandalkan jari telunjuk. Tapi kalau lagi kumat, jari yang satu geraknya enggak berhenti, saya menulis 1 jari," ujar Dini.

Perjalanan hidup Dini kini membawanya ke babak baru yang lebih menantang. Setelah berhasil meraih gelar Sarjana Manajemen Dakwah dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, ia kini bersiap melangkah ke jenjang pascasarjana.

"Saya S-1 Manajemen Dakwah dari UIN. Sekarang alhamdulillah ada kesempatan untuk lanjut S-2," kata Dini.