NADIKABAR.COM — Jauh sebelum internet menjadi bagian kehidupan sehari-hari, media cetak adalah salah satu jendela untuk melihat dunia luar. Bagi mereka yang tumbuh jauh dari pusat kota, halaman-halaman majalah menjadi ruang untuk mengenal berbagai hal yang mungkin belum pernah dijumpai secara langsung.

Hal yang sama dialami, Director of Animal3 Creative sekaligus alumnus ITB Febrian Putra atau Ditra. Tumbuh di Rembang, Jawa Tengah, Ditra mengandalkan media cetak untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang apa yang terjadi di luar kota tempat tinggalnya.

Dari majalah dan tabloid, ia perlahan mengenal dunia yang terasa begitu jauh dari kesehariannya.

Salah satu yang menarik perhatiannya dari halaman-halaman majalah dan tabloid yang dia baca adalah dunia desain dan arsitektur. Pada awal 2000-an, sebuah majalah arsitektur yang dibacanya memunculkan rasa penasaran yang lebih besar mengenai dunia ini, seperti apa sebenarnya dunia desain? Bagaimana orang-orang di kota besar bekerja? Dan yang paling penting, apa yang harus dipersiapkan jika ingin menjadi bagian dari dunia tersebut?

Rasa penasaran itu kemudian mendorong Ditra melakukan sesuatu yang mungkin terdengar biasa: mencari alamat Ikatan Arsitek Indonesia dan menulis surat. Dalam surat itu, dia bertanya tentang apa saja yang perlu dipersiapkan jika ingin menjadi seorang arsitek.

Surat itu dikirim via pos, tetapi tak pernah mendapat balasan sampai sekarang.

Meski surat tak berbalas, hal itu tidak serta-merta menjadi akhir dari pencariannya. Justru dari pengalaman itulah, Ditra mulai tertantang untuk mencari jalan sendiri mengenal dunia yang lebih luas.

"Sebegitunya saya ingin tahu dunia luar itu kayak apa," kata Ditra dalam keterangan tertulis, Kamis (3/9/2026).

Ketertarikan pada dunia visual kemudian semakin tumbuh ketika ia duduk di bangku SMA. Ia terlibat dalam pembuatan majalah dinding sekolah dan mulai menemukan kesenangan dalam mengolah visual dan gagasan.

Selepas SMA, Ditra sempat mencoba masuk jurusan arsitektur di Universitas Gadjah Mada. Ia tidak berhasil pada kesempatan tersebut.

Sampai kemudian seorang teman memperkenalkannya pada Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Teknologi Bandung. Pilihan itu terasa masuk akal bagi Ditra.

Ketertarikannya pada desain bertemu dengan minatnya pada kata-kata dan cerita. Ia kemudian diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Di sana, Ditra mengenal beberapa bidang dalam DKV, termasuk desain grafis, multimedia, dan advertising. Dari ketiganya, advertising justru terasa paling menarik karena memberikan ruang bagi proses berpikir dan pencarian ide.

"Advertising itu modal ngide, terus model mikir kreatif. Ini menarik saya," ujarnya.

Di bangku kuliah itulah, pandangannya tentang industri kreatif mulai terbentuk. Ia belajar bahwa sebuah iklan tidak sekadar persoalan membuat sesuatu terlihat menarik. Ada proses memahami audiens, menemukan persoalan, menyusun strategi, kemudian menerjemahkan gagasan menjadi komunikasi yang tepat.

Pengalaman magang di sejumlah agensi juga memperkenalkannya pada dunia profesional. Bahkan sebelum menyelesaikan kuliah, ia mulai mendapatkan pengalaman bekerja di industri advertising.