Tanpa kehadiran fisik kedua orang tua yang terkendala biaya perjalanan, Masya memilih bertahan hidup di tanah rantau dengan mengandalkan ketekunan. Ia melakoni keseharian sebagai penjaga toko fotokopi, di mana bilik tempat usaha itu berdiri sekaligus menjadi tempat tinggalnya demi memangkas biaya sewa kontrakan.
Meski hari-harinya diwarnai deru mesin fotokopi dan kewajiban menjaga toko, semangat belajar Masya tidak pernah surut. Berkat sistem perkuliahan yang terjadwal efektif selama tiga hari dalam seminggu, ia mampu meramu waktu antara bekerja dan menimba ilmu. Terlebih, langkahnya terasa semakin lapang berkat sokongan beasiswa penuh yang mengiringi perjalanan studinya hingga garis akhir.
"Terima kasih untuk para dosen yang telah membimbing saya dari awal sampai akhir hingga mendapatkan prestasi saat ini, serta dukungan keluarga yang sangat banyak membantu sampai ke detik ini," tuturnya penuh emosi.