NADIKABAR.COM — Perjalanan rombongan Dinas Pendidikan Jember menuju Jakarta berubah menjadi perjalanan panjang setelah penerbangan mereka dibatalkan akibat dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Sudah tiba di Bandara Juanda, mereka justru harus mencari cara lain untuk bisa sampai ke Jakarta karena tiket kereta dan bus telah penuh.

Nasib serupa dialami 14 anggota Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, yang masih tertahan di Surabaya dan belum tahu kapan bisa pulang ke Pangkalan Bun. Gangguan penerbangan akibat abu vulkanik membuat mereka harus memperpanjang masa tinggal, menambah biaya penginapan dan konsumsi, hingga mengurus ulang izin kerja.

Diketahui, abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mengganggu konektivitas penerbangan sejumlah daerah, termasuk melalui Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo. Hingga Senin (7/9/2026) pukul 11.40 WIB, sebanyak 54 penerbangan di Juanda dibatalkan, sementara sejumlah penumpang terpaksa mengubah rencana perjalanan dan mencari alternatif transportasi.

Salah satunya rombongan Dinas Pendidikan Jember yang hendak mengikuti kegiatan PKS Program Revitalisasi di Jakarta. Setelah penerbangan Lion Air yang mereka pesan dibatalkan, rombongan yang terdiri atas perwakilan lima satuan pendidikan itu memilih melanjutkan perjalanan ke Jakarta melalui jalur darat.

Kasi Kelembagaan dan Sarpras PAUD/PNF Dinas Pendidikan Jember, Ema, mengaku kecewa karena informasi pembatalan baru diketahui setelah rombongan tiba di Bandara Juanda. Tiket penerbangan tersebut dipesan pada Minggu (6/9), sementara aktivitas erupsi gunung telah terjadi sejak sehari sebelumnya.

"Ya kecewa. Kami pesan tiket hari Minggu kemarin. Seharusnya ketika membeli tiket ada pemberitahuan kalau kondisi seperti ini. Tapi kami bersama rombongan baru mengetahui saat di Bandara Juanda," kata Ema kepada NadiKabar, Senin (7/9/2026).

Rombongan itu seharusnya terbang menggunakan Lion Air pukul 11.05 WIB menuju Jakarta. Namun, pihak maskapai menyampaikan penerbangan dibatalkan karena aktivitas gunung berapi yang berdampak terhadap penerbangan dan memberikan opsi pengembalian dana.

"Katanya tiket bisa di-refund. Prosesnya sekitar 7 sampai 14 hari kerja. Kalau untuk reschedule masih belum jelas," ujarnya.

Meski penerbangan dibatalkan, Ema dan rombongan tetap berupaya berangkat karena kegiatan yang hendak diikuti dinilai penting. Mereka kemudian mencari alternatif perjalanan melalui jalur darat, tetapi tiket kereta dan bus disebut sudah penuh, sedangkan travel yang sebelumnya dipesan dari Jember juga batal karena faktor cuaca.

"Kami tetap bertekad berangkat karena kegiatan ini penting. Akhirnya kami pilih jalur darat ke Jakarta," terang Ema.

Rombongan tersebut juga masih memiliki kekhawatiran karena pada Kamis mendatang sekitar 10 lembaga dari Jember dijadwalkan mengikuti kegiatan serupa di Jakarta. Ema berharap kondisi penerbangan sudah kembali memungkinkan sehingga perjalanan rombongan berikutnya tidak mengalami kendala.

"Kamis ada 10 lembaga lagi yang akan berangkat. Semoga nanti kondisinya sudah memungkinkan dan perjalanan bisa lancar," katanya.

"Semoga perjalanan lancar dan kami bisa mengikuti kegiatan PKS Program Revitalisasi," pungkasnya.

Gangguan penerbangan juga membuat 14 anggota Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, masih tertahan di Surabaya. Mereka gagal melanjutkan perjalanan pulang ke Pangkalan Bun setelah penerbangan Nam Air yang dijadwalkan berangkat dari Surabaya pukul 15.00 WIB terdampak abu vulkanik.