NADIKABAR.COM — Di sebuah rumah yang nyaris tak lagi menyerupai tempat tinggal, seorang lelaki menjalani sebagian besar hidupnya dalam keterasingan. Dinding yang runtuh, kaca jendela yang pecah, dan lantai yang telah berubah menjadi tanah menjadi saksi panjang perjalanan hidup Abdul Qadir, warga Blok Cilengkong, Desa Sukalila, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.

Rumah itu dahulu berdiri seperti rumah-rumah lainnya. Namun, perlahan berubah setelah Abdul kerap mengamuk dan merusak apa saja yang ada di sekitarnya. Kaca jendela pecah, tembok hancur, dan bagian-bagian rumah rusak akibat ulahnya.

Di tempat itulah, Abdul, yang oleh keluarganya disebut mengalami depresi setelah kecelakaan sepeda motor, menjalani hidupnya selama bertahun-tahun. Kurang lebih dua dekade.

Selama itu pula, Abdul pernah dipasung. Kakinya diikat agar tidak pergi atau membahayakan orang lain. Tangannya juga dirantai. Kini, kaki Abdul sudah tidak lagi dipasung, tetapi rantai masih melingkar di tangannya.

Bagi keluarga, keputusan memasung Abdul bukan perkara mudah. Namun, perilakunya yang agresif membuat mereka merasa tidak memiliki pilihan lain. Abdul disebut kerap melempar kaca rumah, bahkan melempar kaca mobil yang sedang melintas.

Kondisinya bermula setelah sebuah kecelakaan. Abdul terjatuh saat mengendarai sepeda motor. Kepalanya membentur aspal.

Sejak peristiwa itu, menurut keluarganya, kondisi mental Abdul berubah. Ia kemudian dibawa ke sejumlah rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Keluarga juga sempat mencari pengobatan secara nonmedis. Namun, berbagai upaya tersebut belum memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Di tengah keterbatasan keluarga, ada seseorang yang tidak pernah benar-benar meninggalkan Abdul: Dewi (41), kakak kandungnya.